Rabu, 04 Mei 2011

Penyakit – Penyakit Yang Dapat Mempengaruhi Kehamilan



          Jika seorang wanita mengidap penyakit bawaan atau penyakit tertentu yang cukup serius, harus waspada dan berhati-hati dalam menghadapi kehamilan. Dengan perawatan dan pengobatan yang teratur, umumnya kehamilan dapat berjalan dengan lancar. Walaupun demikian, resiko munculnya sesuatu yang tidak diinginkan dapat saja terjadi. Beberapa penyakit yang perlu mendapat perhatian khusus jika diidap oleh wanita hamil diuraikan sebagai berikut :

1.           Penyakit Jantung Pada Kehamilan
Kehamilan dan penyakit jantung akan saling mempengaruhi pada individu yang bersangkutan. Kehamilan akan memberatkan penyakit jantung. Sebaliknya, penyakit jantung akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan.
            Lain halnya pada kehamilan dengan jantung yang normal. Tubuh dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan system jantung dan pembuluh darah. Jika seorang wanita hamil mengidap penyakit jantung akan terjadi perubahan-perubahan berikut ini.
1.      Meningkatnya volume jantung, yang di mulai sejak kehamilan 8 minggu dan mencapai puncaknya 38 minggu, lalu menetap. Kondisi ini bertujuan untuk mencukupi kebutuhan iba dan janin yang di kandungnya
2.      Jantung dan diafragma (sekat rongga dada) terdorong ke atas karena pembesaran rahim.
Dengan demikian, cukup jelas bahwa kehamilan dapat memberatkan penyakit jantung. Kemungkinan timbulnya payah jantung (dekompensasi cordis) pun dapat terjadi. Keluhan-keluhan yang sering muncul adalah:
a.       Cepat merasal lelah
b.      Jantung berdebar-debar
c.       Sesak nafas kadang-kadang di serati kebiruan di sekitar mulut (sianosis), serta
d.      Bengkak terhadap tungkai atau terasa berat pada kehamilan muda.
Untuk mengatasinya, lakukan perawatan yang ketat selama masa kehamilan, persalinan dan setelah meloahirkan. Persalinan hendaknya dilakukan di rimah sakit dengan fasilitas yang memadai.
Jantung adalah organ vital pada manusia yang bertugas memompakan darah beroksigen keseluruh tubuh, kepada janin juga tentunya jika ibu sedang dalam proses kehamilan. Janin yang terus tumbuh menuntut makanan berupa oksigen dan nutrisi dari ibunya dan ini terpenuhi lewat aliran darah yang terus meningkat pada tubuh ibu. Akibatnya, jantung ibu pun akan semakin meningkat daya kerjanya apalagi selama kehamilan juga terjadi proses pengenceran darah (hemodilasi) untuk menjamin lancarnya suplai darah pada ibu dan janin. Kerja keras itu ditandai dengan meningkatnya denyut jantung ibu. Ibu penderita jantung diklarifikasikan dalam beberapa kelas :
  1. Kelas I adalah mereka yang masih bisa melakukan berbagai kegiatan tanpa gangguan.
  2. Kelas II adalah mereka penderita dengan pembatasan gerak fisik. Artinya saat beristirahat mereka tidak merasakan keluhan, tetapi dengan kegiatan fisik biasa seperti melakukan tugas rumah tangga mereka mudah merasa lelah dan jantung berdebar.
  3. Kelas III bila hanya dengan berkegiatan ringan saja bisa membuat si penderita merasa terganggu misalnya sesak nafas.
  4. Kelas IV adalah penderita yang sama sekali tak mampu melakukan aktivitas fisik apapun tanpa keluhan. Penyakit jantungnya termasuk berat.
Penderita kelas I dan II masih bisa menjalani kehamilan dengan pengawasan ketat dokter kandungan dan dokter spesialis jantung. Untuk kelas III bisa jadi dokter menganjurkan untuk berada dalam pengawasan dokter di rumah sakit lebih-lebih setelah kehamilan berusia 28 minggu. Sedang kelas IV umumnya dokter tidak memperbolehkan untuk hamil.
Penderita jantung yang masih boleh hamil tentu harus selalu dalam pengawasan ketat dan kerja sama kuat antara dokter kandungan dan dokter spesialis jantung. Perlu anda tahu, ada dua hal yang sangat mempengaruhi kerja jantung dan bisa memperburuk kondisi ibu hamil berpenyakit jantung yaitu pertambahan berat badan dan anemia. Kedua hal ini memerlukan pengawasan yang ketat. Bila ibu hamil terlalu sering mengeluh sesak nafas, bisa jadi dokter menyarankan untuk dirawat di rumah sakit. Pada dasarnya ibu hamil memerlukan lebih banyak waktu untuk beristirahat.
Jika memang sudah terjadi proses kehamilan pada ibu berpenyakit jantung dan kehamilan berjalan lancar melahirkan normal tentu bisa dilakukan. Bila perlu, dokter akan menggunakan alat bantu berbentuk tang (cunam) atau vakum ekstraksi agar kelahiran bayi jadi lebih mudah. Tindakan tersebut tentu akan dilakukan jika terjadi kondisi yang memburuk baik pada ibu ataupun janin. Bila perlu, operasi caesar pun bisa dilakukan.

2.           Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) Pada Kehamilan
Seorang   wanita  dapat  mengidap  darah  tinggi  sebelum   dirinya   hamil   atau  muncul  ketika  hamil. Penyebab  utama  tekanan darah  tinggi  saat hamil  adalah :
Ø  Tekanan darah tinggi esensial.
Ini disebabkan oleh faktor keturunan, lingkungan, dan emosi yang labil. Biasanya  pada kehamilan lebih dari 30 minggu, sekitar 30% ibu hamil akan mengalami   kenaikan darah, tetapi tanpa menunjukkan adanya gejala. Dan sekitar 20% disertai   dengan keruhnya air seni dan edema (bengkak). Kenaikan tekanan darah ini dapat disertai dengan keluhan sakit kepala, nyeri ulu hati (epigastrium ), mual, muntah, dan  gangguan  penglihatan.
Ø  Tekanan darah tinggi karena penyakit ginjal.
Penyakit ginjal dapat meningkatkan tekanan darah. Hal ini disebabkan oleh adanya  peradangan-peradangan pada beberapa bagian ginjal yang akut atau kronis. Biasanya, peradangan ini akan disertai dengan meningkatnya suhu badan dan  gangguan buang air kecil.
Untuk  mengatasinya :
·         Istirahat yang cukup
·         Mengendalikan emosi  
·         Hindari pekerjaan yang berat 
·         Konsumsilah makanan yang tinggi protein, rendah hidrat arang, rendah lemak  dan rendah garam.
·         Lakukan perawatan yang intensif  
·         Lakukan pengobatan sesuai dengan anjuran dokter

3.           Penyakit Paru – Paru Pada Kehamilan
Umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan, persalinan, dan setelah persalinan, kecuali jika penyakit yang diderita tidak terkontrol, tambah berat, disertai dengan sessak napas. Selama kehamilan, fungsi paru-paru sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Dalam hal ini, akan terjadi proses pertukaran CO2 dan O2 antara ibu dan janinnya. Gangguan fungsi paru-paru yang cukup berat akan mengakibatkan gangguan pada pertumbuhan janin. Penyakit paru-paru yang perlu diperhatikan adalah TBC paru-paru pada fase aktif, asma yang berat, dan radang paru-paru.
Ø  TBC paru
TBC paru-paru sangat jarang diturunkan dari ibu kepada anaknya. Yang harus diperhatikan adalah jika bayi telah lahir, ibu yang mengidap TBC paru-paru yang aktif perlu diisolasi. Bayinya harus segera diberi vaksin BCG dan dipisahkan selama 6-8 minggu. Setelah hasil test mantoux positif (test kekebalan terhadap TBC), bayi boleh didekatkan kepada ibunya. Hal ini untuk menghindari tertularnya penyakit setelah melahirkan. Bayi yang baru dilahirkan sangat mudah tertular oleh penyakit.
Ø  Asma Bronchial
Asma bronchial merupakan penyakit keturunan. Selama kehamilan, penyakit ini bisa berkurang atau bertambah. Untuk menghindari bertambah parahnya penyakit, hindarilah kemungkinan terjadinya infeksi pernapasan dan upayakan tekanan emosional tetap stabil.
Ø  Radang Paru-paru (pneumonia)
Radang paru-paru sering terjadi pada kasus-kasus berat seperti eklampsia, proses persalinan lama, dan sesudah operasi. Penyakit ini perlu diketahui dan diobati sedini mungkin karena kondisi penyakit yang berat dapat membahayakan jiwa ibu dan janinnya. Selain itu, penyakit inipun dapat menyulitkan proses persalinan.

4.           Beberapa Penyakit Darah Pada Kehamilan
Ø  Anemia
Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang. Umumnya, penyebab anemia adalah kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi dalam makanan yang dikonsumsi, penyerapan yang kurang baik (malabsorpsi), kehilangan darah yang banyak (pada haid-haid sebelumnya), serta penyakit-penyakit kronik (seperti TBC paru-paru, cacing usus, dan malaria). Untuk mengatasinya, ibu hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi dan potein, juga sayuran bewarna hijau yang mengandung mineral dan vitamin.
Wanita hamil dikatakan mengidap penyakit anemia jika kadar hemoglobin (Hb) atau darah merahnya kurang dari 10 gram %. Penyakit ini disebut anemia berat. Jika hemoglobinnya kurang dari 6 gram % disebut anemia gravis. Jumlah normal hemoglobin wanita hamil adalah 12-15 gram % dan hemotokritnya adalah 35-54%. Sebaliknya, pengawasan terhadap hemoglobin dan dan hematokrit dilakukan pada trimester I dan trimester III. Pada trimester I dan III pengenceran darah sudah mencapai puncaknya.
Jika seorang wanita hamil mengidap anemia, kemungkinan terjadinya keguguran (abortus), lahir premature, proses persalinan yang lama, dan lemasnya kondisi sang ibu dapat terjadi. Setelah lahir, penyakit ini dapat menyebabkan pendarahan dan shock akibat dari melemahnya kontraksi rahim.
Tipe-tipe penyakit anemia :
v  Anemia Defisiensi Besi
Anemia dalam kehamilan yang paling sering ialah anemia akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam makanan.
v  Anemia Hipoplastik
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah merah. Dimana etiologinya belum diketahui dengan pasti kecuali sepsis, sinar rontgen, racun dan obat-obatan.
v  Anemia Hemolitik
Anemia yang disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat, yaitu penyakit malaria.
v  Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folat.
Beberapa gejala yang timbul akibat penyakit anemia adalah adanya kelainan-kelainan bentuk sel darah merah, lelah, lemah, serta gejala kelainan pada organ-organ vital.

Ø  Hipo dan A-fibrinogenemia
Hipo dan A-fibrinogenemia adalah kelainan pembekuan darah karena kekurangan zat fibrinogen (zat pembeku). Keadaan-keadaan yang menimbulkan Hipo dan A-fibrinogenemia dalam kebidanan adalah :
v  Solusio plasenta
v  Kematian janin dalam kandungan
v  Emboli air ketuban
v  Perdarahan yang banyak
v  Missed abortion
v  Abortus yang terinfeksi
v  Eklampsia.
Jika fibrinogen dalam darah banyak berkurang maka pendarahan akan sulit dihentikan. Kondisi ini dapat mengakibatkan kematian.

Ø  Iso-imunisasi
Iso-imunisasi adalah proses pembentukan zat-zat penangkal (aglutinin/antibodi) antigen yang berasal dari orang lain. Eritrosit ibu yang mengandung antigen masuk kedalam tubuh janin yang tidak memiliki antigen. Akibatnya, akan terbentuk benda-benda penangkis (antibodi) dalam tubuh janin terhadap antigen. Untuk menangani penyakit tersebut harus disesuaikan dengan keadaan bayi, biasanya dilakukan transfusi dalam rahim atau transfusi tukar darah. Selanjutnya dilakukan pencegahan dengan cara memberikan pengobatan suntikan antiRhoGam pada ibu 72 jam setelah persalinan untuk menangkal sel darah bayi yang masuk ke ibu.

5.           Penyakit Saluran Pencernaan Pada Kehamilan
Pada umumnya, keluhan saluran pencernaan merupakan gejala awal hamil muda. Keluhan saluran pencernaan selama kehamilan diuraikan sebagai berikut :
Ø  Mulut
1)      Hipersalivasi (ptialismus)
Air liur keluar lebih banyak dari biasanya, sering disertai dengan mual dan muntah. Gejala ini akan hilang setelah trimester I.
2)      Gingivitis dan epulis
Gusi menjadi lunak, bengkak, kemerahan dan mudah berdarah sewaktu menggosok gigi. Peradangan mulut bisa terjadi jika kebersihan rongga mulut tidak dijaga.
3)      Caries gigi
Caries gigi adalah gigi yang berlubang dan rusak. Gigi yang rusak dapat memperburuk nafsu makan sehingga konsumsi kalsium menjadi kurang.
Ø  Perosis (heartburn)
Perosis adalah keluhan sakit dan pedih di ulu hati atau nyeri dada yang disebabkan oleh terjadinya regurgitasi isi lambung yang asam ke bagian bawah saluran pencernaan.
Ø  Gastritis (peradangan lambung)
Keluhan hamil muda sering disangka gastritis karena gejalanya hamper sama, yaitu nyeri ulu hati, mual, muntah, tidak mampu makan dan menjadi kurus.
Ø  Hiperemesis gravidarum
Hiperemesis gravidarum adalah kondisi wanita hamil yang muntah keras di awal kehamilan menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, atau kekurangan gizi dengan disertai penurunan berat badan. Hyperemesis gravidarum lebih sering terjadi pada primigravidas yaitu wanita yang lebih muda, terutama mereka yang kurang dari 20 tahun. Kehamilan ganda dan adanya penyakit trofoblas juga tampak predisposisi gangguan ini.




6.           Penyakit Hati Pada Kehamilan
Penyakit hati disebabkan oleh virus hepatitis A atau B. Virus ini akan mengakibatkan terjadinya penyakit hepatitis infeksiosa. Pada wanita hamil, penyakit ini biasanya bertambah parah karena terjadinya kerusakan sel-sel hati yang meluas sehingga akan menyebabkan rasa sakit yang sangat hebat dan meningkatkan angka kematian ibu dan janinnya. Gejala dari penyakit ini adalah berkurang nafsu makan, demam, mual, muntah, nyeri ulu hati, kuning dan pembesaran hati. Untuk mengatasinya, penderita dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter.

7.           Penyakit Infeksi Pada Kehamilan
Kehamilan sering terjadi bersama dengan infeksi. Infeksi ini dapat mempengaruhi kehamilan. Sebaiknya, kehamilan dapat memperberat infeksi. Berikut ini diuraikan tentang jenis jenis infeksi yang dapat menimbulkan kelainan kongenital (cacat bawaan).
Ø  Infeksi virus
Pengaruh infeksi virus terhadap kehamilan tergantung pada perkembangan virus untuk melewati plasenta. Ada tiga jenis virus yang menyebabkan kecacatan pada bayi, yaitu Rubella, Sitomegalovirus, dan Herpes virus hominis.
v  Rubella
Serangan virus ini akan mengakibatkan kelainan bawaan pada janin. Jika virus ini menyerang pada trisemester I, kecacatan janin akan terjadi sebesar 30 % - 50%. Jika virus ini menyerang pada trisemester II, Kecacatan janin akan terjadi sebear 6,8%. Jika virus ini menyerang pada trisemester III, Kecacatan janin akan terjadi sebesar 5,3%. Umumnya, Organ tubuh janin yang mengalami kecacatan adalah mata, jantung, telinga, dan susunan saraf pusat.

v  Sitomegalovirus
Serangan virus ini akan menyebabkan cacat janin pada bagian kepala, mata kaki, dan kelainan darah.
v  Herpes virus hominus
Serangan virus ini akan menyebabkan kematian janin dalam rahim. Jika bayinya lahir akan ditemukan gelombang-gelombang pada kulit badan dan mata dan selaput lendir mulut.
Ø  Infeksi oleh penyakit kelamin
v  Syphilis
Gejala awal yang muncul adalah terjadinya luka pada alat kelamin. Kondisi ini sering tidak di sadari oleh wanita. Gejala selanjutnya akan timbul tonjolan kulit yang lebar dengan permukaan licin, basah, berwarna putih kelabu, dan sangat infeksius karena mengandung kuman syphilis yang jumlahnya banyak.
v  Gonorrhoea (GO)
Penyakit  ini dapat menimbulkan peradangan pada alat kelamin bagian dalam. Keluhannya berupa keputihan yang jumlahnya banyak dan sulit/ Merasa sakit saat buang air kecil.
v  Trichomoniasis vaginalis
Keluhan yang muncul adalah keputihan yang disertai rasa gatal pada alat kelamin. Biasanya, di ikuti dengan perlukaan di daerah mulut rahim dan peradangan kronis pada leher rahim.
v  Candiasis
Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang dapat hidup dalam rongga mulut, usus, paru-paru, serta alat kelamin luar dan dalam, disertai atau tanpa keputihan. Kadang-kadang, terasa panas dan nyeri sesudah buang air kecil dan besar. Atau rasa nyeri waktu bersetubuh.
v  Condylomata Acuminata
Condylomata acuminata adalah sejenis tumbuhan pada kulit dan selaput lendir alat kelamin menyerupai jengger ayam jago. Tumbuhan ini berbentuk tonjolan-tonjolan kecil. Kadang-kadang, berkumpul menjadi besar dengan permukaan kasar dan berwarna gelap.
v  Herpes genitalis
Herpes genitalis disebabkan oleh herpes symplex tipe-2 (HSV-2), Gejalanya timbul sekitar 6–8 hari setelah infeksi dalam bentuk luka pada alat kelamin. Awalnya, luka tersebut berupa bintik-bintik merah yang terasa pedih, bergerombol menjadi lepuh-lepuh kecil yang didalamnya mengandung virus. Jika lepuhan menjadi nanah dan pecah akan menjadi luka dangkal yang nyeri . Pada tahap ini, herpes dapat ditularkan karena luka ini berisi berjuta-juta partikel virus. Umumnya, HsV-2 Mengakibatkan gejala sakit kepala, nyeri otot, demam, pembengkakan pada kelenjar getah bening, nyeri saat buang air kecil, dan keluarnya cairan dari alat kelamin.
v  HIV dan AIDS
Penularan HIV (Human Immun Defency Virus) bisa terjadi akibat hubungan seksual yang mengandung HIV, atau memakai jarum suntik bekas orang yang terinfeksi HIV. Adanya HIV dalam Tubuh kan menyebabkan berkurangnya kekebalan tubuh atau hilang sama sekali sehingga akan mempermudah penyakit lain menyerang tubuh yang lemah. Kumpulan dari gejala-gejala penyakit itulah yang disebut dengan AIDS (Aquired Immunodeficincy Sydrome). Selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui, HIV dapat ditularkan oleh ibu kepada bayinya. Masuknya HIV ke dalam tubuh manusia melaui aliran darah dan menyerang sistem kekebalan tubuh. Serangan pertama setelah terinfeksi HIV  menyerang sisitem kekebalan tubuh. Serangan pertama setelah terinfeksi HIV adalah timbulnya gejala mirip Flue, seperti lemas, demam, sakit kepala, nyeri otot, napas makin memburuk, mual kelenjar membengkak, dan timbulnya bercak di kulit. Gejala ini akan hilang dalam beberapa minggu. Umumnya, orang yang tertular HIV bebas Gejala selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun sehingga gejala ini di anggap flu biasa. Beberapa bulan berikutnya gejala yang muncul akan bertambah dan tidak hilang, seperti munculnya keringat di malam hari, demam dan diare yang berkepanjangan, dan terjadinya penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya. Jika hal ini terus berlangsung kesadaran penderita akan menurun dan kematian pun tidak bisa dihindari. Orang tertular HIV, tetapi tidak menunjukkan gejala disebut carier HIV (pembawa penyakit).
Ø  Infeksi Bakteri
v Typhus abdominalis
Penyakit ini akan memperburuk keadaan ibu saaat hamil maupun setelah melahirkan. Infeksi ini akan menyebabkan angka kematian janin sebesar 75%. Penanganan kasus ini dapat dilakukan oleh ahli penyakit dalam, misalnya dilakukan pencegahan dengan memberikan vaksinasi terhadap ibu hamil. Selain itu, setelah melahirkan ibu tidak dianjurkan untuk menyusui bayinya jika sedang terinfeksi bakteri ini.
v Kolera
Gejala utamanya adalah muntah, mencret, demam serta kekurangan cairan dn elektrolit. Penyakit ini dapat menyebabkan abortus atau lahir prematur. Untuk mengatasinya, jika ibu mengalami diare dan muntah harus dirawat dan diobati secara intensif melalui pemberian cairan pengganti.
v Infeksi ginjal dan saluran kemih pada kehamilan
Ginjal dan saluran kemih dapat terinfeksi bersamaan secara akut maupun kronis. Pada infeksi Ginjal dan saluran kemih yang akut terjadi gejala-gejala sebagai berikut.
·         Panas badan yang tinggi disertai menggigil.
·         Nyeri pinggang yang terkena infeksi atau di bagian symphysi.
·         Nyeri saat buang air kecil dan produksi air seni sering berkurang.
·         Nyeri kepala, mual sampai muntah, dan nafsu makan berkurang.
Infeksi ini mudah terjadi pada wanita karena posisi saluran kemih dan anus (sebagai sumber infeksi) berdekatan. Saat hamil, air seni yang keluar sering tersisa sehingga terjadinya infeksi kandungan kemih bagian kanan. Akibatnya, terjadi timbunan air seni yang mempermudah terjadinya infeksi ginjal, disertai gejala panas rahim dapat mengakibatkan abortus, bayi lahir prematur, dan mempermudah infeksi pada bayi. Selain itu, selama kehamilan daya tahan tubuh ibu akan menurun sehingga akan memperberat penyakit ini.
Ø  Infeksi Protozoa
v Malaria
Gejala penyakit ini berupa panas yang tinggi, disertai menggigil. Penyakit ini sangat mempengaruhi kehamilan karena dapat menyebabkan hal-hal berikut.
·         Pecahnya butir sel darah merah, yang dapat mengakibatkan terjadinya anemia dan menggangu proses penyaluran dan pertukaran nutrisi kearah janin. Akibatnya, pertumbuhan dan perkembangan janin terhambat.
·         Infeksi Plasenta, yang dapat menghalangi pertukaran dan penyaluran nutrisi ke janin.
·         Panas badan tinggi, yang dapat merangsang terjadinya kontraksi otot rahim.
Jika penyakit malaria tidak ditangani secara intensif dapat mengakibatkan terjadinya abortus, bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilannya, serta kematian janin. Untuk mengatasinya, penyakit ini harus diobati dengan segera agar prognosa (nilai kesembuhannya) lebih baik bagi ibu dan janinnya. Pecegahan malaria pada bayi harus dilakukan karena kekebalan hanya berlangsung 3 bulan. Setelah itu, bayi perlu diobati anti malaria dalam bentuk sirup selama 6 bulan.
v Toksoplasmosis
Infeksi ini disebabkan oleh Tokoplasmosis Gondii. Protozoa ini banya terdapat pada anjing, kucing, tikus dan binatang lainnya. Gejala infeksinya berupa kelenjar limfe yang membengkak, nyeri, dan mungkin terjadi abses. Infeksi lain dapat terjadi pada organ paru-paru dan jantung. Keluhan yang muncul adalah terjadinya gangguan pada susunan saraf pusat berupa kelemahan otot-otot. Serangan Toksoplasmosis gondii dapat mengakibatkan terjadinya abortus, bayi lahir prematur, cacat bawaan pada bagian kepala (hydrocephalus, microcephalus, anencephalus dan meningoecephalitis), dan kelainan mata. Untuk mencegah dan mengatasinya, sebaiknya hindari pemeliharaan binatang. Jika ingin memelihara binatang harus dengan pengawasan dokter hewan.




8.           Penyakit Endokrin Pada Kehamilan
Penyakit endokrin yang sering dijumpai adalah kelainan kelenjar pankreas dan kelainan kelenjar tiroid.
Ø  Kelainan Kelenjar Pankreas
Kelainan kelenjar pankreas dapat menyebabkan terganggunya produksi hormon insulin. Jika produksi hormon ini terganggu akan menyebabkan timbulnya penyakit gula. Penyakit gula ini ditunjukkan dengan kekurangannya atau tidak terbentuk nya hormon insulin. Jika hormon insulin tidak terbentuk, kadar gula dalam darah tinggi. Pada wanita hamil, kondisi ini sangat mempengaruhi metabolisme tubuh ibu secara menyeluruh, pertumbuhan, dan perkembangan janin akan terganggu. Jika tidak ditangani segera, pertumbuhan dan perkembangan janin akan terganggu, terjadi abortus, persalinan prematur, kematian dalam rahim, dan ukuran bayi besar (lebih dari 4000 gram).
Gejala-gejala yang sering timbul pada penyakit gula adalah poliuri (banyak buang air kecil), polidipsi (banyak minum air), dan polifagi (banyak makan). Penyakit gula akan berpengaruh pula pada saat melahirkan, misalnya terjadinya gangguan kontrksi rahim. Ganguan ini akan mengakibatkan proses persalinan berlangsung lama karena ukuran janin yang besar. Pada kasus ini, sering dilakukan tindakan operasi. Setelah melahirkan penderita mudah terserang infeksi dan proses penembuhan luka membutuhkan waktu lama, penyakit gula merupakan penyakit keturunan. Dengan demikian, adanya kemungkinan bayi yang lahir potensial mengidap penyakit gula. Untuk mengatasinya, harus dilakukan pengamatan yang ketat selama hamil, melahirkan dan pasca melahirkan sesuai ajuran dokter ahli. Persalinan hendaknya dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas memadai.

Ø  Kelainan Kelenjar Tiroid
Selama kehamilan, kelenjar tiroid bekerja lebih berat atau fungsinya mengalami peningkatan karena kebutuhan metabolisme yang meningkat sekitar 15-25%. Akibatnya, sering dijumpai kelenjar tiroid yang membesar. Berikut ini diuraikan tentang pengaruh dari kelainan Tiroid.
v Morbus basedowi (hipertiroidismus)
Gejala-gejala yang muncul adalah tremor (tangan yang bergetar) aktivitas  gerak meningkat, jantung berdebar dengan nadi cepat, dan bola mata menonjol. Jika kelainan ini terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan abortus dan bayi lahir prematur.
v Mixedema (Hipotiroidismus)
Mixedema disebabkan oleh rendahnya kadar hormon tiroid dalam darah. Kelainan ini akan menyebabkan gangguan pertumbuhan secara menyeluruh. Jika terjadi pada wanita hamil, sering mengakibatkan abortus dan bayi yang dilahirkan akan cacat (mengalami kritinismus janin cebol).

9.           Penyakit Saraf Pada Kehamilan
Ø  Gangguan saraf pada preeklampsia dan eklampsia
Tekanan darah yang meningkat pada preeklampsia dan eklampsia akan menimbulkan gangguan sirkulasi darah ke otak. Akibatnya akan terjadi pendarahan, edema jaringan otak, atau terjadi kekurangan oksigen (hipoksia otak). Kondisi ini bisa menimbulkan gejala gangguan saraf, seperti nyeri kepala/penglihatan kabur, kejang-kejang dan koma.

Ø  Epilepsi (penyakit ayan)
Epilepsi banyak terjadi pada kehamilan muda. Tanda-tandanya sering terjadi serangan kejang karena mual dan muntah. Pada kondisi ini, biasanya ibu tidak bisa minum obat.
Ø  Polineuritis gravidarum (polineuritis saat hamil)
Polineuritis gravidarum sering terjadi pada wanita hamil muda karena rendahnya nafsu makan dan sering muntah sehingga kandungan B1 dan B kompleks dalam tubuh berkurang. Umumnya, gejala yang timbul yaitu sering semutan, kaki kram, dan hilangnya rasa perabaan. Obat yang diberikan adalah kombinasi B kompleks atau B1. Gejala polineuritis gravidarum akan berkurang jika nafsu makan ibu bertambah.
 
10.      Penyakit Kulit Pada Kehamilan
Ø  Pruritus kehamilan (prurigo gestationis)
Penyebab timbulnya penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Keluhannya berupa rasa gatal di daerah perut, alat kelamin, perineum (daerah antara kelamin dan anus) atau di seluruh tubuh. Keluhan akan berkurang diakhir kehamilan dan sesudah melahirkan. Akan tetapi, keluhan ini akan timbul kembali pada kehamilan berikutnya. Untuk mengatasinya, ibu hamil dianjurkan untuk melakukan diet tinggi kalori, rendah lemak, dan tinggi protein serta mengonsumsi vitamin dan obat-obatan penghilang rasa gatal.
Ø  Alopesia (botak karena hamil)
Alopesia terjadi karena pengaruh hormon selama kehamilan. Beberapa ibu hamil mengalami kebotakan sebagian atau seluruhnya. Penyakit ini sulit diobati. Kadang-kadang rambut tumbuh kembali beberapa lama setelah melahirkan. Namun, tidak  dapat dipastikan. 

Diposkan oleh blogger di 20:17 0 komentar http://img2.blogblog.com/img/icon18_edit_allbkg.gif
Selasa, 26 April 2011


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar